Rabu, 22 Maret 2017

Pengertian Musikalisasi Puisi

Untuk menjadikan pembacaan puisi lebih ekspresif dan menarik, pembacaan puisi dapat dikemas dalam bentuk musikalisasi puisi.
Musikalisasi puisi merupakan kegiatan pembacaan puisi dengan cara dilagukan, diberi irama, atau diiringi musik yang sesuai dengan isi puisi. 
Musikalisasi dapat membantu membangun suasana dan imajinasi kita dalam mengapresiasi puisi. Dalam pelajaran kali ini, kamu akan berlatih membuat sebuah musikalisasi puisi sederhana yang dapat ditampilkan.

Cara Membuat Musikalisasi Puisi

Langkah-langkah cara membuat musikalisasi puisi adalah (1) menikmati musikalisasi puisi, (2) memilih puisi yang akan dimusikalisasi, (3) memahami puisi yang akan dimusikalisasi, (4) menentukan irama yang sesuai dengan suasana puisi, (5) menampilkan musikalisasi puisi, dan (6) menilai musikalisasi puisi.

1. Menikmati Musikalisasi Puisi

Pernahkah kamu mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade atau Bimbo? Lirik lagu yang mereka nyanyikan terasa sangat puitis. Lirik-lirik lagu tersebut pada dasarnya adalah puisi yang dimusikalisasi atau disajikan dalam bentuk lagu yang memiliki irama.

Bahkan, lirik-lirik lagu Bimbo ada yang ditulis oleh Taufik Ismail, salah seorang penyair ternama Indonesia. Mari kita nikmati lirik-lirik lagu itu! Putarlah salah satu lagu Ebiet G. Ade!

Dengar dan cobalah ikut bernyanyi! Kamu dapat juga menyanyikan lagu “Tuhan” karya Taufik Ismail yang dipopulerkan oleh Trio Bimbo. Sambil bernyanyi, simaklah syair lagunya. Berikut adalah teks syair lagu “Tuhan”.

Tuhan
Oleh: Trio Bimbo
Tuhan, tempat aku berteduh
Di mana aku mengeluh
Dengan segala keluh

Tuhan, Tuhan yang Maha Esa
Tempat aku memuja
Dengan segala doa

Aku jauh Engkau jauh
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berpadu

Setelah kamu mendengarkan atau menyanyikan lagu tersebut, kemukakanlah pendapatmu tentang irama lagu itu. Apakah iramanya sesuai dengan suasana dan isi lirik lagunya? Bagaimana pula tentang suasana perasaanmu dan imajinasi yang kamu bayangkan ketika mendengarkan lagu itu?

Selanjutnya, cobalah syair lagu tadi kamu baca sebagaimana kamu membaca puisi dengan diiringi alat musik tertentu, misalnya gitar, piano, atau gamelan!

2. Memilih Puisi yang Akan Dimusikalisasi

Sebenarnya semua puisi bisa dimusikalisasi. Akan tetapi, sebaiknya kamu memilih puisi-puisi yang sederhana, yang syairnya mudah diucapkan agar mudah dinyanyikan.

Berikut ini salah satu contoh puisi sederhana yang dapat
dimusikalisasi.

Tuhan
Karya: Hasbiono K.
Pengertian dan Contoh Cara Membuat Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi

Kauberi aku mata untuk melihat
Kauberi aku telinga untuk mendengar
Kauberi aku kaki untuk berjalan
Kauberi aku akal untuk berpikir

Tuhan,
Kini aku telah melihat bumiMu
Kini aku telah mendengar kata-kataMu
Kini aku telah berjalan menyelusuri bumiMu
Dan telah kupikirkan semua tujuanMu

Alangkah munafiknya diri ini
Bila tak bersyukur padaMu
Alangkah berdosanya hati ini
Bila keangkuhan ada pada diriku

Oh, Tuhan
Maafkan hambaMu

Pilihlah puisi yang sederhana yang mudah untuk dilagukan atau diiringi musik! Caranya, pilihlah beberapa puisi kemudian diskusikan dengan kelompokmu, dengan guru bahasa Indonesia, atau guru kesenian untuk menentukan puisi yang paling cocok untuk dimusikalisasi!

3. Memahami Isi Puisi yang akan Dimusikalisasi

Setelah menentukan puisi yang akan dimusikalisasi, kamu harus mampu memahami isi puisi dengan tepat agar irama lagu yang dipilih sesuai dengan isi puisi.

Untuk memahami isi suatu puisi, kamu dapat berpedoman pada pertanyaan berikut.

1) Apa tema puisi itu?

2) Suasana bagaimanakah yang menjiwai puisi itu?

3) Hal apakah yang ingin dikemukakan pengarang melalui puisi itu?

4) Adakah bunyi vokal atau konsonan yang dominan dalam puisi itu?

5) Kata-kata apakah di dalam puisi itu yang menurutmu sulit untuk dipahami?

4. Menentukan Irama yang Sesuai dengan Suasana Puisi

Dengan bantuan guru musikmu, tentukanlah nada, irama, dan tempo yang sesuai dengan isi dan suasana puisi! Dengan demikian, akan tercipta perpaduan bunyi yang indah antara puisi dan alat musik yang mengiringi.

Manfaatkanlah alat-alat musik sederhana yang ada di sekitarmu seperti gitar, harmonika, atau seruling! Bila tidak ada alat musik, kamu dapat menyanyikan secara acapela (bernyanyi tanpa musik).

5. Menampilkan Musikalisasi Puisi

Setelah semuanya disiapkan tampilkanlah musikalisasi puisi! Dalam penampilan musikalisasi, unsur terpenting yang harus diperhatikan adalah kejelasan vokal dan penghayatanmu (ekspresi) saat menyanyikan puisi tersebut.

Yang diutamakan tetap isi larik-larik puisi. Musik menjadi pendukung yang harus senada dengan isi puisi. Kegiatan ini adalah sebuah kerja kelompok sehingga setiap anggota kelompok harus berperan aktif. Vokalis boleh lebih dari satu asalkan padu.
Pengertian Dialog Interaktif
Dialog merupakan kegiatan berbicara ataupun berbincang-bincang yang terarah dengan maksud dan tujuan tertentu yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Jadi pengertian dialog interaktif adalah dialog yang dilakukan antara narasumber di televisi atau radio dengan pemirsa atau pendengar tentang suatu hal yang sedang diperbincangkan.

Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Menyimak Dialog Interaktif
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika kita akan menyimak suatu dialog interaktif yang terjadi di radio ataupun televisi. Beberapa hal tersebut diantaranya sebagai berikut.
  1. Tema Dialog, ini harus kita perhatikan karena tema merupakan sebuah pokok dari permasalahan yang akan diperbincangkan.
  2. Narasumber, kita harus mengetahui dengan jelas siapakah yang menjadi narasumber dalam sebuah dialog interaktif.
  3. Pendapat Narasumber, ini juga harus kita perhatikan karena dalam sebuah dialog interaktif kita juga harus mengetahui apa saja pendapat yang dikemukakan oleh para narasumber.
  4. Kesimpulan Dialog, merupakan inti sari atau hal-hal penting yang ada atau terjadi dalam dialog interaktif tersebut.
Memberikan Komentar Dalam Dialog Interaktif
Setelah kita selesai menyimak sebuah dialog, hal yang perlu kita lakukan adalah memberikan komentar. Memberikan komentar dalam sebuah dialog interaktif ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya sebagai berikut.

  1. Memberikan komentar yang bersifat objektif dan komentar tidak memihak kepada salah satu peserta ataupun narasumber.
  2. Komentar harus disertai fakta-fakta yang akurat dan meyakinkan.
  3. Komentar berisi alasan yang logis.
Hal-hal yang perlu dikomentari dalam dialog interaktif adalah sebagai berikut.
  1. Tema dialog, apakah penting atau tidak.
  2. Kemampuan dan penguasaan para narasumber terhadap materi yang dibicarakan.
  3. Relevan atau tidaknya pertanyaan peserta dialog terhadap tema dialog.
  4. Benar atau tidaknya tanggapan atau jawaban narasumber atau pertanyaan peserta dialog.
Lalu bagaimana cara mengetahui isi dialog yang diperbincangkan dalam sebuah dialog interaktif? Caranya adalah dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pewawancara atau wartawan.

Contoh Dialog Interaktif
Berikut akan saya berikan contoh dialog interaktif singkat yang ada di televisi indonesia yaitu Metro TV pada acara Kick Andy.

Nama Acara       : Kick Andy.
Stasiun Tv          : Metro TV.
Waktu                 : Pukul 20.05 WIB, Jum'at 22 Juli 2017.
Pembawa Acara  : Andy Flores Noya.
Narasumber        : Dahlan Iskan.
Tema                   : Kesuksesan serta tindakan Dahlan Iskan sebagai Menteri yang kontroversial.
Pembahasan        : Tanpa melibatkan pemirsa.
Dialog                 :


Andy     : Selamat malam bapak menteri.
Dahlan  : Selamat malam.
Andy     : Apa yang anda pikirkan sebenarnya sehingga Anda tidak mau menerima fasilitas untuk anda sebagai menteri?
Dahlan   : Hidup kita harus sederhana, karena kita nanti pasti tidak jadi apa-apa. Supaya kalau kita sudah tidak jadi apa-apa, kita tidak merasa kehilangan. Pada akhirnya kita juga pasti kehilangan yang paling mahal, yaitu nyawa. Kalau kita sudah latihan tidak keberatan kehilangan apapun, pasti kita tidak keberatan bila harus dipangil tuhan untuk kehilangan nyawa.
Andy     : Siapa orang yang paling berjasa untuk Anda dalam meraih kesuksesan Anda?
Dahlan  : Pertama adalah orang tua saya, yang telah membesarkan saya. Kedua adalah kakak perempuan saya yang ada di Samarinda yang telah membiayai hidup saya dan adik saya setelah orang tua saya meninggal.
Andy     : Mengapa tanggal lahir Anda tidak bisa dipastikan?
Dahlan  : Ketika saya lahir, kakak saya menuliskan tanggal lahir saya di balik pintu lemari. Suatu saat ibu saya sakit parah dan tidur di rumahnya dukun selama 1 bulan. Bapak saya tidak kerja karena menemani ibu saya. Karena tidak ada penghasilan dari Bapak, maka barang-barang di rumah dijual termasuk lemari yang bertuliskan tanggal lahir saya.
Andy      : Bagaimana cara Anda melalui masa-masa sulit dalam kemiskinan?
Dahlan   : Saya merasa tidak menderita karena kemiskinan. Saya menerima apa adanya, karena bagaimanapun keadaannya, hidup harus dijalani.
Andy      : Sejak kapan Anda mengabaikan fasilitas-fasilitas negara yang diberikan untuk Anda?
Dahlan   : Sejak menjadi Direktur Utama PLN. Banyak orang yang mengatakan PLN itu sarang korupsi. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menerima gaji, mobil dinas, dan rumah dinas dari PLN.
Andy      : Apa yang terjadi dengan hati Anda dan adakah pengaruh dari operasi ganti hati pada kegiatan Anda sehari-hari?
Dahlan   : Awalnya saya mengidap Hepatitis B, kemudian saya terkena kanker hati dan umur saya diperkirakan tinggal 6 bulan. Maka saya menjalani operasi ganti hati dan syukurlah sekarang saya tidak cepat lelah ketika bekerja.
Andy    : Apa yang mendasari Anda untuk melakukan tindakan-tindakan kontroversial seperti naik ojek, dan tidur di rumah petani di desa?
Dahlan  : Ketika saya naik ojek, saat itu benar-benar macet sehingga saya harus naik ojek agar tepat waktu. Ketika saya tidur di rumah petani, saya ingin mengetahui kenapa orang miskin sekarang begitu menderita. Saya juga ingin mencari cara untuk memecahkan kemiskinan sedikit demi sedikit.
Andy     : Apabila dicalonkan menjadi presiden atau wakil presiden, maukah anda menerimanya?
Dahlan  : Saya tidak mau jadi presiden atau wakil presiden saya ingin terus bekerja sebagai Menteri BUMN semampu saya.
Andy     : Di mana sajakah Anda menerima pendidikan formal Anda?
Dahlan   : Saya menerima pendidikan formal saya yaitu SD, SMP, dan SMA di kampung halaman saya. Kemudian saya ikut kakak saya ke Samarinda untuk kuliah di IAIN. Karena orang yang mau kuliah di Samarinda masih sedikit, saya mudah mencari kuliah di sana.

Kesimpulan Dialog
Masalah tindakan-tindakan Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN yang kontroversial saat ini sedang menjadi topik pembicaraan di TV. Inti pembicaraan dari dialog interaktif itu adalah bagaimana seorang anak yang dulunya tidak punya sepatu dan hanya menginginkan mempunyai sepeda dan sepatu bisa sukses menjadi seorang pejabat negara yang dikagumi oleh masyarakat.

Dalam sebuah dialog TV tanggal 22 Juli 2017, didiskusikan bagaimana Dahlan Iskan melewati masa-masa sulit dalam kemiskinan dan perjalanan karirnya hingga sukses seperti sekarang. Narasumber menyatakan bahwa kemiskinan bukan penderitaan dan harus dijalani. Beberapa pendapat yang sejalan adalah pendapat Khrisna Pabhicara yang inti pendapatnya adalah kemiskinan bukan halangan untuk mencapai kesuksesan.

Unsur Intrinsik Cerpen

Secara umum, setiap membaca cerpen, kalian akan menemukan enam unsur pembentuk cerita seperti di bawah ini.

1. Tokoh dan Penokohan

Setiap cerita pasti memiliki tokoh-tokoh yang menjadi pemailai dalamnya. Tidak hanya menjadi tokoh yang diam, pemain-pemain dalam sebuah prosa memiliki sikap dan peran dalam membentuk cerita. Karena itulah, unsur instrinsik cerpen berupa tokoh dan penokohan tidak dapat dipisahkan satu sama lain
Ketika menemukan seorang tokoh dalam cerita, secara tidak langsung kamu akan digiring untuk mengetahui peran dan sikapnya dalam suasana yang hendak dibangun pada cerpen tersebut. Sikap dan peran tersebutlah yang disebut sebagai penokohan, sementara nama-nama dari tiap pemain disebut sebagai tokoh.

2. Alur

Sebagian orang sulit membedakan alur dengan jalan cerita. Padahal, simpelnya, alur adalah rangkaian cerita yang memiliki hubungan sebab-akibat (kausalitas) sehingga membentuk suatu kesatuan. Sementara itu, jalan cerita hanyalah rangkaian cerita yang berbentuk kronologis dari awal sampai akhir, tanpa disertai hubungan kausalitas yang kuat.
Secara sederhana, alur memiliki beberapa tahapan, mulai awalnya pengenalan, konflik, komplikasi (kerumitan), klimaks, leraian, sampai pada penyelesaian. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing bagian alur.

a. Pengenalan

Pada tahap ini, pembaca dikenalkan pada tokoh, penokohan, hingga latar sebuah cerita.

b. Konflik

Setelah itu, pembaca akan dihadapkan pada bagian cerita yang menampilkan masalah utama dari kisah. Masalah bisa menyangkut persoalan dalam diri sang tokoh, perselisihan dengan tokoh lain, sampai antara satu tokoh dan lingkungannya. Untuk cerpen, biasanya hanya ada satu konflik yang membangun kisahnya.

c. Klimaks

Ketika masalah sudah mencapai puncaknya, itulah yang dikenal dengan istilah klimaks. Di tahap ini pembaca bisa mendapatkan puncak ketegangan dari persoalan yang diusung pengarang.

d. Leraian

Setelah mencapai puncak, persoalan akan menemui titik balik yang cenderung menurun. Tingkat ketegangan berkurang karena masalah sedang menuju pada tahap akhir.

e. Penyelesaian

Tahap akhir yang dimaksud adalah penyelesaian. Pada bagian ini, semua masalah diuraikan dan didapati solusinya. Namun, ada juga cerpen yang membuat penyelesaiannya secara terbuka sehingga bagian solusi tidak diceritakan.
Kelima bagian alur di atas tidak mesti terjadi secara berurutan. Apalagi pada cerpen-cerpen modern, kamu bisa saja menjumpai kisah yang dimulai dari klimaks dan berujung pada klimaks juga.
Selain memiliki tahapan, alur sebuah cerita juga memiliki jenisnya masing-masing. Secara umum, ada tiga jenis alur yang bisa ditemukan pada cerpen.

a. Alur Maju

Pada model alur ini, cerita dijabarkan secara kronologis dan mengikuti ketentuan waktu yang selalu bertambah. Untuk cerita dengan alur maju, tahapan alurnya cenderung konvensional, yaitu pengenalan-konflik- klimaks, leraian-penyelesaian.

b. Alur Mundur

Model alur ini biasanya menampilkan konflik atau penyelesaian terlebih dahulu. Dari sana, barulah diceritakan ulang mengenai tahapan masalah yang membentuk alur sehingga terkesan waktunya bergerak mundur dan disebut sebagai alur mundur.

c. Alur Kilas Balik (Flash Back)

Alur kilas balik merupakan penggabungan alur maju yang disertai kilasan-kilasan kisah yang sifatnya mengenang atau mengingat. Kenangan ini diceritakan pula secara detail untuk membangun kelengkapan cerita.

3. Latar

Unsur intrinsik cerpen yang satu ini sering disebut sebagai setting dan mencakup tiga hal di dalamnya, yakni latar waktu, latar tempat, dan latar suasana yang membangun sebuah peristiwa. Pada intinya, latar merupakan gambaran suasana yang terjadi pada sebuah cerita.

a. Latar Waktu

Menggambarkan kapan peristiwa dalam kisah tersebut terjadi.

b. Latar Tempat

Menggambarkan di mana dan lokasi tempat terjadinya peristiwa.

c. Latar Suasana

Menggambarkan cara peristiwa itu terjadi dan perasaan yang dialami para tokoh.

4. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan bagian unsur intrinsik cerpen yang menjelaskan pencerita yang mengisahkan cerpen tersebut. Dalam prosa, umumnya ada dua jenis sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga.

a. Sudut Pandang Orang Pertama

Model sudut pandang yang satu ini biasa diceritakan oleh kata ganti orang pertama, yaitu “aku”. Pencerita sebagai aku bisa memiliki dua peran, yakni dia sebagai pemeran utama cerita tersebut ataupun dia hanya sebagai pengamat dari tokoh-tokoh lain yang diceritakannya.

b. Sudut Pandang Orang Ketiga

Sudut pandang yang memakai orang ketiga ditandai dengan penggunaan kata ganti “dia” untuk menunjuk para tokoh yang bermain dalam cerita. Model sudut pandang ini juga dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama adalah sudut pandang orang ketiga sebagai narator serbatahu yang bisa menjelaskan isi hati dan rahasia dari peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Yang kedua adalah sudut pandang orang ketiga sebagai tokoh bawahan yang berfungsi sebagai pengamat.

5. Gaya Bahasa dan Penceritaan

Dalam sebuah cerpen, kamu akan menemukan banyak kiasan ataupun bahasa yang terkesan lebih lembut atau lebih kasar. Inilah yang disebut sebagai gaya bahasa. Setiap pengarang memiliki gaya bahasa yang berbeda dan ini juga berhubungan dengan penceritaan yang dibangunnya pada sebuah cerpen.
Gaya bahasa biasanya berbentuk majas untuk merefleksikan atau mengasosiasiakan sebuah kalimat. Ada juga gaya bahasa yang menampilkan makna-makna konotatif untuk memperindah tampilan cerita.

6. Tema dan Amanat

Tema sebuah cerita akan selalu berhubungan dengan amanat yang hendak disampaikan oleh pengarah dalam pengisahannya. Jadi, sulit untuk memisahkan kedua unsur ini guna berdiri sendiri-sendiri.
Meskipun berkaitan, tema dan amanat memiliki arti yang berbeda sebagai unsur intrinsik cerpen. Tema adaah gagasan dasar yang ada dalam sebuah cerita. Sebagai contoh ketika membaca cerpen tentang perayaan Hari Pahlawan, kamu akan menemukan ide cerita yang mengangkat masalah nasionalisme ataupun sikap rela berkorban.
Sementara itu, amanat merupakan nilai-nilai yang bisa dipetik dalam kisah yang dibaca. Nilai tersebut akan selalu berhubungan dengan tema yang mendasari cerpen tersebut. Contohnya lagi, masih dengan cerpen tentang perayaan Hari Pahlawan, kamu bisa menemukan pesan untuk mencintai tanah air ataupun untuk selalu mengenang jasa para pahlawan.

Unsur Intrinsik Drama Materi Bahasa Indonesia

Unsur intrinsik ialah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah drama adalah unsur-unsur yang turut serta membangun sebuah cerita. Termasuk dalam unsur intrinsik drama adalah judul, tema, amanat, perwatakan/karakter tokoh, dialog, alur/plot,  latar/setting,  bahasa dan interpretasi. (T-A-P-D-A-L-B-I)

Unsur Intrinsik Drama
1.      Tema
Tema adalah pikiran pokok yang mendasari lakon drama. Pikiran pokok ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi cerita yang lebih menarik. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema adalah ide yang mendasari cerita sehingga berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema merupakan ide pusat atau pikiran pusat, arti dan tujuan cerita, pokok pikiran dalam karya sastra, gagasan sentral yang menjadi dasar cerita dan dapat menjadi sumber konflik-konflik.

2.      Amanat 
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau penonton drama. Pesan ini tidak disampaikan secara langsung, tapi lewat  naskah drama yang ditulisnya atau lakon drama itu sendiri. Penonton atau pembaca harus menyimpulkan sendiri pesan moral apa yang diperoleh dari membaca naskah atau menonton drama tersebut.

3.      Perwatakan/Karakter Tokoh
Perwatakan atau karakter tokoh adalahkeseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama. Karakter ini diciptakan oleh penulis lakon untuk diwujudkan oleh para pemain drama. Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. 3 macam perwatakan yakni:
  1. Antagonis, tokoh utama berprilaku jahat
  2. Protagonis, tokoh utama berprilaku baik
  3. Tritagonis, tokoh yang berperanan sebagai tokoh pembantu
4.      Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif. Dialog melancarkan cerita atau lakon. Dialog mencerminkan pikiran tokoh cerita. Dialog mengungkapkan watak para tokoh cerita. Dialog merupakan hubungan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog berfungsi menghubungkan tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dialog juga berfungsi menggerakan cerita dan melihat watak atau kepribadian tokoh cerita.
Ada dua macam tenik dialog, yaitu monolog dan konversi (percakapan). Ada juga teknik dialog dalam bentuk prolog dan epilog. Prolog berarti pembukaan atau peristiwa pendahuluan yang diucapkan pemeran utama dalam sandiwara. Epilog berarti bagian penutup pada karya drama untuk menyampaikan atau menafsirkan maksud karya drama tersebut.

5.      Alur/Plot
Alur/plot cerita atau jalan cerita. Dalam drama juga mengenal tahapan plot yang dimulai dari tahapan permulaan, tahapan pertikaian, tahapan perumitan, tahapan puncak, tahapan peleraian, dan tahapan akhir.
Alur dalam drama dibagi menjadi babak-babak dan adegan-adegan. Babak adalah bagian dari plot atau alur dalam sebuah drama yang ditandai oleh perubahan setting atau latar. Sedangkan adegan merupakan babak yang ditandai oleh perubahan jumlah tokoh ataupun perubahan yang dibicarakan. Alur cerita ini dapat dibagi menjadi beberapa,  pengenalan, pertikaian/konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan,  penyelesaian. (EK3RK)
  1. Pengenalan/Eksposisi. Pengenalan adalah bagian yang mengantarkan atau memaparkan tokoh, menjelaskan latar cerita, dan gambaran peristiwa yang akan terjadi. Pada tahap ini penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama beserta wataknya, dan fakta-fakta tertentu, baik secara eksplisit maupun implisit
  2. Konflik. Konflik adalah persoalan-persoalan pokok yang mulai melibatkan para pemain drama. Dalam tahap ini mulai ada  kejadian (insiden) atau peristiwa yang merupakan dasar dari drama tersebut.
  3. Komplikasi. Komplikasi merupakan tahap dimana insiden yang terjadi mulai berkembang dan menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. Banyak persoalan yang kait-mengait, tetapi semuanya masih menimbulkan tanda tanya.
  4. Klimaks. Klimaks adalah tahapan puncak dari berbagai konflik yang terjadi dalam drama tersebut. Bila dilihat dari sudut pembaca naskah atau penonton drama maka klimaks adalah puncak ketegangan. Bila dilihat dari sudut konflik maka klimaks adalah titik pertikaian paling ujung antar pemain drama.
  5. Resolusi/Peleraian. Dalam tahap ini dilakukan penyelesaian konflik. Jalan keluar penyelesaian konflik-konflik yang terjadi sudah mulai tampak jelas.
  6. Penyelesaian. Penyelesaian merupakan tahap terakhir dari sebuah drama. Dalam tahap terakhir ini semua konflik berakhir dan cerita selesai.
6.      Latar/Setting
Latar adalah tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah drama. Latar tidak hanya merujuk kepada tempat, tetapi juga ruang, waktu, alat-alat, benda-benda, pakaian, sistem pekerjaan, dan sistem kehidupan yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa yang menjadi latar ceritanya.

7.      Bahasa 
Setiap penulis drama mempunyai gaya sendiri dalam mengolah kosa kata sebagai sarana untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain berkaitan dengan pemilihan kosa kata, bahasa juga berkaitan dengan pemilihan gaya bahasa (style). Bahasa yang dipilih pengarang untuk kemudian dipakai dalam naskah drama tulisannya pada umumnya adalah bahasa yang mudah dimengerti (bersifat komunikatif), yakni ragam bahasa yang dipakai dalam kehidupan keseharian. Bahasa yang berkaitan dengan situasi lingkungan, sosial budaya, dan pendidikan. Bahasa yang dipakai dipilih sedemikian rupa dengan tujuan untuk menghidupkan cerita drama, dan menghidupkan dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh ceritanya. Demi pertimbangan komunikatif ini seorang pengarang drama tidak jarang sengaja mengabaikan aturan aturan yang ada dalam tata bahasa baku.

8.      Interpretasi 
Penulis naskah drama selalumemanfaatkan kehidupan masyarakat sebagai sumber gagasan dalam menulis naskah drama. Naskah yang ditulisnya dapat dipertanggungjawabkan, terutama secara nalar. Artinya ketika naskah drama tersebut dipentaskan akan terasa wajar, logis, tidak janggal dan tidak aneh. Bahkan harus diupayakan menyerupai kehidupan yang sebenarnya dalam masyarakat.

Tambahan :
Judul adalah kepala karangan atau nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang dapat menyiratkan isi buku tersebut. Judul suatu karya drama juga merupakan kunci untuk melihat keseluruhan makna drama. Judul isi karangan selalu berkaitan erat. Judul karangan seringkali berfungsi menunjukan unsur-unsur tertentu dari karya sastra, misalnya :
  1. Dapat menunjukan tokoh utama
  2. Dapat menunjukan alur atau waktu
  3. Dapat menunjukan objek yang dikemukakan dalam suatu cerita
  4. Dapat mengidentifikasi keadaan atau suasana cerita